WAHAI MAHASISWA

BERFIKIR KRITIS TANPA EMOSI

 

Kebiasaan yang selalu dilaksanakan pada saat bulan ramadhan adalah shalat tarawih berjamaah, begitu juga kegiatan mahasiswa sekitar kampus. Kebiasaan juga, semakin bulan ramadhan berakhir, shaf shalat tarawih di masjid itu pula semakin maju (jamaahnya semakin berkurang). Kebiasaan ngabuburit di protokol-protokol jalan tak kalah ramainya dengan kegiatan di masjid. Akan tetapi bedanya semakin bulan ramadhan berakhir, pengikut ngabuburit semakin bertambah banyak dan bertambah ramai. Begitulah sebagian besar kebiasaan yang dilalui oleh mahasiswa selama ini pada Bulan Ramadhan.

Intensitas kegiatan keagamaan sangat penting sekali guna menangkal budaya kekerasan yang akhir-akhir ini marak dengan kehidupan mahasiswa di Tanah Air. Kegiatan keagamaan yang yang penuh kedamaian, dapat meredam segala tindak kekerasan. Akan tetapi jika peredaman kekerasan hanya sesaat pada saat ramadhan, ibadah ramadhan selama sebulan tidak ada artinya. Pohon rindang hanya tertarik untuk berteduh, sedangkan pohon rindang dan berbuah manis menjadi lebih berharga bagi pemiliknya.

Mahasiswa dituntut kritis terhadap situasi yang ada disekitarnya, terlebih terhadap diri mahasiswa sendiri. Karena dengan kekritisan berfikir mahasiswa akan terbuka wacananya, tergerak hatinya untuk menjalankan perannya di masyarakat, terutama bulan ramadhan adalah saat yang tepat dalam memperlihatkan peran mulai dari diri sendiri, sehingga mahasiswa tidak terpaku pada 3K (Kos-Kantin-Kampus).

Sikap kritis tanpa dibarengi akhlak yang mulia akan menjurus pada premanisme dan berakhir pada sikap anarkis. Agama sebagai kontrol diri dari semua yang kita terima, antara lain melalui proses belajar, teladan atau bahkan peraturan yang mengikat. Kontrol agama, sikap humanis dan religiusitas yang sudah mulai lemah harus dibiasakan kembali guna mencapai kebersihan hati.

Kecerdasan intelektual merupakan syarat mutlak bagi mahasiswa, akan tetapi sikap humanis perlu ditumbuhkan kembali di jiwa mahasiswa yang sudah sangat individualis. Agama sebagai kontrol bagi proses berfikir dan akhirnya diwujudkan dalam tindakan perlu datanamkan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Kebersihan hati, guna mewujudkan manusia yang agamis, humanis serta memiliki kecerdasan intelektual yang berguna bagi masyarakat, dapat mulai diterapkan selama bulan ramadhan berlangsung. Sehingga fikiran kritis yang tidak bercampur emosi dapat berlangsung di kehidupan mahasiswa di Tanah Air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: