Adidaya Bahasa Inggris Meruntuhkan Nasionalisme?

Download Artikel di sini < Bahasa Indonesia > < Bahasa Inggris >

Masih terekam di benak ini ketika semua guru, khususnya guru bahasa Inggris baik di SMP maupun SMA, hingga dosen di kampus, mereka semua dan juga orang tua,saudara di rumah selalu dan selalu mengatakan pentingnya belajar bahasa inggris. Selintas kemudian celoteh ‘bodoh’ ini berucap “untuk apa sih belajar bahasa orang?”, sekedip kemudian tawaan selalu mengiringi pertayaan ‘bodoh’ saya tadi.  Ada juga feedback yang menurut saya dia telah merendahkan diri sendiri :”ya malu dong kalo kita ga bisa bahasa Inggris”.

Tidak  salah memang menguasai bahasa Inggris atau bahasa asing lain. kenyataannya saat ini perusahaan cenderung menjadikan ini sebagai syarat pertama dalam merekrut karyawan. apalagi era perdagangan bebas itu mulai menampakkan bayangannya didepan kita, malah sebagian tubuhnya sudah terlihat.

Sebenarnya siapa yang pendatang dan siapa yang tuan rumah? Kita tuan rumah kan? Iyalah! Harusnya mereka yang pake bahasa kita. Mereka boleh aja berdagang disini, karena banyak juga untungngya buat kita. Tapi janganlah kita yang ikut mereka dalam hal bahasa. apa yang bisa kita banggakan sekarang selain bahasa indonesia yang terus menyatukan kita? Tunjukan bahwa kita tak bisa ditenggelamkan begitu saja dalam kuatnya arus westernisasi. Ini tanah kita! Ya, tanah air kita! kenapa bangga kalo ngomong inggris? kenapa merasa hebat kalo ngomong bahasa inggris? Emang kenapa dengan bahasa indonesia?

Satu lagi pertanyaan, kenapa bahasa inggris bisa jadi bahasa internasional? Jawabannya simpel aja, karena meraka kuat, mereka punya jati diri, mereka bisa mempertahankan apa yang seharusnya mereka pertahankan, ya, budaya mereka yang didalamnya terdapat bahasa. Kita liat mandarin yang mulai mengikuti jejak bahasa inggris. benar sekali kalau mereka adalah bangsa yang kuat. 

Ini memang hanya sebuah wacana yang sangat mudah tertiup angin dan hilang begitu saja, tapi jika semua orang percaya dan meyakini hal ini maka terjadilah!!

“You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one..I hope someday you’ll join us and the world will live as one” (john lennon) 

 

BAHASA DAN NASIONALISME

Sebagian besar negara di dunia sedikit banyak menghadapi persoalan bahasa. Golongan-golongan minoritas yang memiliki bahasa masing-masing bisa ditemukan di kebanyakan negara. Golongan minoritas ini tidak jarang pula merupakan kelompok masyarakat yang berasal dari latar belakang kebudayaan serta rasial yang berbeda dengan golongan mayoritas yang kuat. Di beberapa negara, atau dalam beberapa hal, antara golongan-golongan minoritas dengan mayoritas berlangsung suasana hidup berdampingan secara damai di mana bahasa tidak menimbulkan persoalan. Namun sering pula justru memicu ketegangan sosial dan politik di beberapa negara lain.

Di Eropa sendiri timbulnya kesadaran bahwa bahasa merupakan suatu lambang kebangsaan, dikatakan sebagai perkembangan yang relatif masih baru. Dimulai dengan mencuatnya apa yang disebut ‘Gerakan Romantik’ pada awal abad kesembilan belas di negara-negara seperti Perancis,
Inggris dan Jerman Barat. Juga di Finlandia, timbulnya nasionalisme Finlandia sebagian besar dikatakan berasal dari perasaan perbedaan bahasa yang pada akhirnya menyebabkan negara itu memisahkan diri dari Rusia serta terbentuknya Filandia sebagai sebuah negara yang merdeka.

Tetapi ada pula negara-negara di mana perbedaan kebangsaan dan bahasa tidak mempengaruhi kesetiaan mereka kepada negara, atau perasaan memiliki satu negara. Contoh paling bagus adalah Romania. Di samping bahasa Jerman dan bahasa Hungaria, terdapat pula berbagai golongan minoritas yang dalam kehidupan sehari-hari mempergunakan lima bahasa
lain yang berbeda satu dengan lain. Semua golongan minoritas ini dikatakan memperoleh kesempatan untuk memajukan serta mengembangkan bahasa mereka masing-masing.

Sangat bertolak belakang dengan Romania adalah bekas Uni Soviet di mana rakyat menggunakan sedikitnya dua ratus bahasa. Demi keseragaman politik pada waktu itu, pemerintah menerapkan kebijakan Rusifikasi, usaha untuk me-Rusia-kan semua rakyat bekas Uni Soviet. Memaksakan agar mereka mau menerima bahasa Rusia sebagai bahasa resmi sementara bahasa-bahasa serta kebudayaan non-Rusia yang berjumlah ratusan itu tidak memperoleh perhatian serius. Bagi golongan yang tidak berbahasa Rusia, dikatakan bahwa adalah merupakan satu keniscayaan bagi mereka untuk menguasai bahasa itu bila mereka tidak ingin ketinggalan dalam kehidupan sosial.
Ini tentunya tidak dapat ditafsirkan lain selain upaya perluasan
pemakaian bahasa Rusia yang dipaksakan.

Bahkan di negara-negara Barat yang dianggap demokratik seperti Perancis, juga terlihat sikap yang tidak simpatik pada bahasa-bahasa minoritas yang dipakai di sana seperti bahasa Basque dan Breton. Perancis memang terkenal sebagai bangsa yang sangat bangga dengan bahasa Perancis dan
berusaha keras untuk melindungi bahasa itu dari pencemaran
bahasa-bahasa lain. Kendati tentu saja upaya ini tidak selamanya berhasil.

Contoh lain yang bisa diketengahkan adalah India. Bahasa Hindi telah berkembang menjadi bahasa resmi, dan dipakai di seluruh negara itu. Begitupun, dikatakan masih terdapat berbagai kawasan di sana yang masih merasa asing dengan bahasa Hindi. Dan berbeda dengan Indonesia, kenyataan ini menyebabkan India yang terbukti sangat kuat mempertahankan
adat-istiadat dan kebudayaannya itu begitu saja mesti menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di samping bahasa Hindi.

Juga tidak seperti Indonesia, terdapat banyak negara di mana pemerintah dihadapkan pada persoalan pelik dalam kemestian memilih sebuah bahasa nasional, atau yang dapat dijadikan dan diterima sebagai bahasa nasional di antara banyak bahasa yang dipakai di negara itu. Apabila pemerintah
memilih bahasa dari salah satu suku yang lebih besar, atau bahasa yang paling banyak pemakainya, maka kemungkinan yang sudah bisa diperkirakan adalah kecewanya suku-suku atau masyarakat etnik yang memakai bahasa lain. Bagi negara-negara yang pernah dikuasai Inggris, atau yang di sana
bahasa Inggris sudah luas dipakai, mereka tampaknya lebih suka menjadikan bahasa Inggris sebagai lingua-franca, karena bahasa itu dianggap netral oleh semua suku atu etnik, walaupun bahasa Inggris adalah bahasa yang berasal dari luar pekarangan kebudayaan leluhur mereka. Dan justru karena bahasa Inggris merupakan lingua-franca yang relatif netral inilah yang menyebabkan India memilihnya sebagai bahasa resmi disamping bahasa Hindi. Begitu pula dengan Sri Lanka yang menyatakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi lantaran bahasa Inggris
lebih bisa diterima daripada bahasa Tamil dan bahasa Sinhala. Hal serupa juga terjadi di beberapa negara di Afrika.

Rasa kebangsaan atau identitas nasional dari negara-negaran yang menggunakan bahasa dari luar sebagai lingua-franca kelihatannya memang tidak begitu saja ditentukan oleh bahasa, namun lebih dilandaskan pada persamaan kebudayaan, dan dalam beberapa hal, juga persamaan agama. Bahwa rasa kebangsaan dan identitas nasional juga tidak sepenuhnya
ditentukan oleh bahasa bisa pula lebih jelas dilihat di banyak negara dimana tidak ada bahasa nasional, namun tetap terdapat suatu kebulatan identitas nasional. Negara seperti Australia, Selandia Baru dan AS adalah negara-negara yang berbahasa Inggris, tetapi rakyat di masing-masing negara ini tetap memiliki satu perasaan kebangsaan yang khas dan kuat.

Sekalipun demikian, tidak pula bisa dipungkiri bahwa suatu bahasa memang merupakan akar dari perasaan nasional. Untuk menjelaskan hal ini, Inggris bisa kita kedepankan sebagai contoh. Inggris terdiri dari empat daerah: England, Wales, Irlandia Utara, dan Skotlandia. Keempat daerah ini sesungguhnya memiliki bahasa masing-masing. Daerah Skotlandia dan Irlandia tampaknya tidak berkeberatan menerima bahasa Inggris sebagai salah satu dimensi dari identitas nasional mereka. Namun ternyata tidaklah demikian halnya dengan daerah Wales yang telah memberikan putra-putranya yang terbaik ke dunia internasional seperti antara lain bintang filem Richard Burton, penyair Dylan Thomas dan penyanyi Tom Jones.

Wales barangkali adalah salah satu contoh dari satu bahasa yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini kian disadari sebagai bahasa yang kelangsungan hidupnya kian menghampiri kepunahan. Daerah kecil bergunung-gunung dan berpadang rumput ini secara politik dan ekonomi dipersatukan dengan England, Skotland, Northern Ireland yang membentuk
Great Britain and Northern Ireland. Menurut sejarahnya, jantung
kehidupan rakyat Wales selama puluhan abad telah berdenyut dalam bahasa Wales. Kesusastraannya dianggap sebagai salah satu kesusastraan paling tua di Eropa. Kendati demikian, sekarang ini hanya satu dari lima orang Wales yang bisa berbahasa Welsh, bahkan ada yang memperkirakan kurang
dari itu (kurang dari 20 persen dari orang Wales yang bisa menggunakan bahasa mereka sendiri). Jumlah orang Wales yang menguasai bahasa mereka telah melorot terus sepanjang satu abad terakhir ini, dan proses penciutan ini masih tetap berlangsung hingga kini. Atau dengan kata lain, jumlah masyarakat Wales, yakni masyarakat yang menggunakan bahasa Wales sebagai bahasa pokok dalam kegiatan hidup sehari-hari secara lambat laun terus menurun dan tetap demikian keadaanya. Daerah-daerah di Wales yang dianggap menggunakan bahasa Welsh sebagai bahasa utama
sekitar sepuluh tahun silam kini tidak lagi begitu halnya.

Membanjirnya orang-orang berbahasa Inggris ke Wales dari daerah-daerah lain, dominasi media, baik cetak maupun elektronik, adalah dua penyebab utama yang bertanggung-jawab atas kemunduran itu. Namun apakah pemerintah Inggris kurang memperhatikan bahasa yang sedang manuju kemusnahan ini? Memang, ada kalangan yang berpenilaian demikian. Sebetulnya pendapat ini dengan mudah bisa disanggah dengan mengemukakan kenyataan bahwa kebudayaan Wales, termasuk di dalam kebudayaan itu sudah tentu juga bahasanya, adalah kebudayaan minoritas yang paling banyak menerima subsidi dari pemerintah. Rakyat berbahasa Wesh diberi berbagai hak serta fasilitas, termasuk pula dana yang nota bene kurang
didapatkan oleh etnik lain. Sedikit saja kebudayaan-kebudayaan etnik lain yang memperoleh perlakuan istimewa seperti itu. Tampaknya pemeritah Inggris sudah berbuat lebih dari cukup guna mencegah kepunahan salah satu spesis bahasa paling tua di Eropa ini. Bahasa Wales bahkan dilindungi oleh undang-undang, diberi saluran radio dan televisi sendiri. Dan semenjak beberapa tahun belakangan ini sudah ada empat ratus sekolah yang secara khusus mengajarkan bahasa Welsh.

Walau begitu, ada pemerhati kebudayaan Wales yang beranggapan bahwa proses kupunahan bahasa itu tidak bisa dibendung. Bahasa Wales sudah terluput dari kemungkinan dapat dikembalikan menjadi bahasa mayoritas di dalam masyarakatnya sendiri. Ada pula yang bahkan meramalkan bahwa bahasa Welsh akan mundur mencapai satu periode pada saat mana orang tidak lagi akan membicarakannya sebagai bahasa nasional Wales. Mekipun adanya ramalan yang buram ini, namun upaya para tokoh yang berkepentingan dengan kelangsungan hidup bahasa Welsh tampaknya tidak surut bersamaan dengan surutnya pemakaian bahasa yang mereka bela. Sebuah dewan yang mereka namakan Caernarvon Council Chamber telah mempraktikkan kebijakan dua bahasa. Berbagai dokumen telah ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Welsh. Berbagai diskusi dan perdebatan juga sudah diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Welsh. Malah tidak cuma berhenti sampai di situ. Salah seorang anggota Dewan,
Dafydd Orwig, beserta para mitranya berusaha memperluas pemakaian resmi bahasa Welsh ke sekitar dan ke luar daerah Caernarvon. “Jika satu bahasa hendak dipertahankan, ” demikian tutur Orwig melalui salah satu tulisannya, “maka bahasa itu harus dipergunakan dalam setiap lapangan kehidupan, dan karena kami memiliki kebijakan dua bahasa, kami bisa lebih mendorong pemakaian bahasa Welsh. Bahasa ini sekarang sudah semakin luas dipakai, namun kami ingin melihatnya dipergunakan di mana-mana: dalam perniagaan, di berbagai bank, kantor dan toko-toko.”

Saluran televisi yang khusus berbahasa Welsh, adalah saluran yang ditujukan untuk seluruh Wales. Terbentuknya saluran khusus ini dianggap sebagai menara pencapaian paling menjulang dari perjuangan membela hak-hak bahasa Welsh. Keberhasilan ini diraih setelah ikhtiar berkampye yang berlangsung lama. Tetapi, ternyata ada pula kalangan yang
menganggap bahwa saluran media elektronik berbahasa Welsh ini justru menimbulkan pengotakkan dalam masyarakat Wales. Menurut mereka ini, pengadaan siaran Bahasa Welsh, baik televisi maupun radio, dan pendirian berbagai lembaga bahasa Welsh yang lain, untuk pertama kalinya dalam sejarah Wales, telah menciptakan masyarakat asli berbahasa Welsh, yaitu kelas menengah yang menganut prinsip politik tertentu. Terbentuknya masyarakat kelas menengah dengan warna politik tertentu ini
menyebabkan masyarakat lain di Wales, yakni masyarakat kelas pekerja, merasa bahwa bahasa Welsh adalah bahasa masyarakat kelas menengah. Dan orang-orang Wales sudah barang tentu tidak menghendaki terjadinya dua kubu sosial seperti itu.

Bagaimanapun juga, kalangan kelas menengah adalah segmen masyarakat yang memainkan peran penting dalam ikhtiar melestarikan bahasa Welsh. Meraka sangat berperan dalam upaya menyelamatkan bahasa itu. Tetapi memang ironis bahwa berbagai lembaga dan sarana yang dibentuk untuk melindungi bahasa Welsh malah bisa mempercepat kemusnahannya. Barangkali karena berbagai kekurangan serta kegagalan dari usaha kalangan minoritas inilah, maka sementara orang bersikap pesimistik. Mereka menilai kemunduran bahasa Welsh merupakan sesuatu yang niscaya. Orang-orang berbahasa Welsh memang akan tetap ada, namun hadirnya bahasa Welsh sebagai satu bahasa yang hidup terus, yang dipakai luas oleh
masyarakat Wales, tidak akan mungkin dipertahankan. Suatu kekayaan kebudayaan yang diperkirakan akan hilang untuk selama-lamanya. Demikian pandangan suram yang digambarkan oleh orang-orang pesimistik ini. Sungguhpun begitu, ada pula orang Wales yang berpendapat bahwa kendati bahasa leluhur mereka memang bakal lenyap sama sekali, tatapi
rakyat Wales sendiri serta kebudayaan mereka tidak akan mundur. Meskipun bahasa Wales punah, namun tidaklah berarti bahwa perasaan yang mendalam dan penting sebagai orang Wales akan serentak menjadi sirna pula.


Tipisnya Nasionalisme Bahasa Indonesia

Kalau soal wilayah negerinya, orang Indonesia selalu tampil nasionalis, fanatik nasionalis bahkan. Timor Timur dulu dihalangi-halangi keluar dari NKRI. Sementara kepada Aceh dan Papua yang juga ingin cabut dari NKRI dihentakkan yel-yel “NKRI Harga Mati.” Tapi dalam soal bahasa, orang Indonesia ternyata dengan rakus mencampurkan bahasa asing ke dalam bahasanya sendiri, sampai-sampai muncul istilah indoglish, bahasa Indonesia yang dicampuraduk dengan bahasa Inggris. Bagaimana nasionalisme bahasa bisa begitu rendah di kalangan orang Indonesia? Berikut penjelasan R. Kunjana Rahardi, konsultan bahasa Indonesia di Yogyakarta.

Banyak kasus yang saya temui dari teman-teman yang tidak mahir atau bahkan sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, kebanyakan mereka kesulitan ketika melamar kerja. Secara skill bidang pekerjaan, mereka menguasasi dan dinilai cakap, tapi karena ada kriteria bahasa inggris tersebut, mereka akhirnya tersisihkan. Pengalaman lain, adalah dari mereka yang mahir berbahasa Inggris. Pekerjaan seakan terbuka lebar, apalagi kalau skill mereka juga mantap. Dengan skill yang seadanya saja, lapangan kerja toh terbuka, minimal jadi penerjemah ataupun pemandu turis.

Berbagai alasan dan pengalaman yang tertuang diatas, secara implisit memang bisa menjawab pertanyaan ’kenapa kita harus pintar berbahasa inggris?” yang saya ajukan dalam tulisan ini. Namun, secara eksplisit, ada faktor lain yang membuat saya berpikir lain. Yakni, kenapa sih harus bahasa Inggris? Lalu, kalau memang kita pergi keluar negeri kita memakai bahasa Inggris, kenapa di negeri sendiri juga harus berbahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan orang pendatang. Jika kita harus menyesuaikan dengan bahasa mereka ketika kita berkunjung ke negerinya, kenapa mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan bahasa kita ketika mereka berkunjung atau bahkan menetap, apalagi membangun usaha disini?

Permasalahan lainnya adalah apakah bahasa Indonesia yang katanya bahasa pemersatu itu kalah agung dengan bahasa Inggris? Bahkan di negeri sendiri, dimana secara luas bahasa pemersatu itu belum juga menjadi bahasa nasional yang diagungkan. Yang lebih mengerikan lagi, tampaknya orang lebih merasa ’keren’ atau berwibawa ketika memakai bahasa Inggris, atau menyisipkan bahasa Inggris dalam tulisan atau bahkan ketika berbicara, contoh kasus terdekat bisa ditemui di acara-acara televisi, sinetron remaja umumnya.

 

Saya sempat berdebat dengan pimpinan redaksi sebuah majalah di Bandung ketika saya magang disana. Berawal dari petanyaan saya kepada beliau, tentang kenapa di majalah ini banyak kata-kata Inggrisnya, walaupun pada dasarnya secara umum majalah ini berbahasa Indonesia, karena target pembacanya adalah orang Indonesia. Dengan sederhana beliau menjawab, ”beberapa adalah kata-kata yang tidak bisa di bahasa Indonesiakan, bahkan ada yang ilmiah juga. Lalu, yang lainnya adalah salah satu upaya kita juga untuk mencerdaskan pembaca, dengan menyisipkan sedikit demi sedikit bahasa asing”.

Pada jawaban bagian pertama saya sepakat, karena susah juga kalau kita mengartikan sendiri, sebuah kata yang dari sananya memang begitu, dan saya pun memaklumi karena pada awalnya bahasa Indonesia, kebanyakan serapan dari bahasa asing, tapi kenyataannya sekarang kan sudah ditetapkan menjadi bahasa nasional. Namun, untuk alasan kedua saya kurang begitu sepakat, sehingga memunculkan pertanyaan, untuk apa pembaca cerdas berbahasa Inggris… lalu.. lalu..” dan terjadilah perdebatan diantara kami berdua yang tidak mempunyai kesepakatan, tapi hal itu kami wajarkan, karena diskusi tentu saja bukan semata-mata untuk mencari kesepakatan tapi minimal memperluas wawasan dan pemahaman. Dan sayangnya sampai tulisan ini saya buat saya belum cukup paham dengan alasan-alasan dari mereka yang menjawab pertanyaan saya tersebut.

Sekilas, wacana dan pertanyaan tentang bahasa Inggris yang saya ajukan memang sangat sederhana atau bahkan sangat sepele, ”ini pertanyaan anak SD, bahkan TK” ujar seorang teman diskusi lainnya suatu waktu. tapi saya memiliki esensi lebih dalam, yakni apakah itu bukan bentuk penjajahan. Penjajahan yang bukan dalam bentuk fisik tapi dalam bentuk budaya, yang salah satu unsurnya adalah bahasa. Jepang saja bangga dengan bahasanya, dan mereka kebanyakan tidak menggunakan bahasa Inggris yang katanya bahasa Internasional itu di Indonesia, tapi mereka menggunakan bahasa ibunya sendiri.

Lalu, disebuah kesempatan sebelum tulisan ini saya rampungkan, seorang teman berkata : ” tidak ada yang salah dengan belajar bahasa Inggris, toh suatu waktu kita memerlukannya, tapi kita tentu harus menempatkan dimana dan kapan kita memakainya. Dan lebih penting lagi, jangan mencampur adukan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia dalam satu dialog.” – mungkinkah ini jawaban yang paling tepat?

Melawan Dominasi Bahasa Inggris

“Will the English-dominated Internet spell the end of other longues?”. Begitu tulis Jim Erickson dalam artikel “Cyberspeak: the Death of Diversity”, di Asianweek, 3 Juli 1998.

Dominasi bahasa Inggris di internet memang telah menebarkan kecemasan. Nasib ribuan bahasa di dunia terancam. Tak urung, mantan Presiden Perancis Jacques Chirac, dikutip The Economist, 21 Desember 2006, menyebutnya “a major risk for humanity”, musibah besar bagi kemanusiaan.

Ranka Bjeljac-Babic (2000) lewat artikel “6,000 Languages: An Embattled Heritage” juga mengingatkan bahwa arah menuju penghomogenan bahasa sudah makin terasakan saat ini lewat penyebaran informasi secara elektronis dan sejumlah aspek globalisasi yang lain.

Pertanyaan Erickson, pernyataan Chirac, dan peringatan Bjeljac-Babic boleh jadi mewakili kecemasan sebagian besar masyarakat dunia tentang dominasi bahasa Inggris.

Situasi Indonesia

Di Indonesia kecemasan menyeruak jauh sebelum internet hadir. Sejak tahun 1970-an kecemasan telah terasa seiring dengan gencarnya pengajaran dan makin luasnya pemakaian bahasa Inggris yang terkesan berlebihan. Di pihak lain, bahasa Indonesia belum sepenuhnya mampu menjadi bahasa nasional dan bahasa resmi negara. Enam ratusan bahasa daerah juga perlu dipikirkan nasibnya. Melalui Praseminar Politik Bahasa Nasional 29-31 Oktober 1974 dan Seminar Politik Bahasa Nasional 25-28 Februari 1975, dihasilkan kerangka dasar “kebijaksanaan bahasa nasional” yang mencakup bidang kebahasaan dan kesastraan.

Sekarang, lebih dari tiga dekade berselang, pemakaian bahasa Inggris makin meluas, terutama di kota-kota. Ruang-ruang publik telah menjadi rimba iklan, penuh tebaran kata-kata “Engdonesia”. Papan-papan nama dan petunjuk juga demikian, sekalipun terkadang konyol. Bukti termutakhir adalah penyebutan “armada bus” transjakarta dengan bus-way (“jalur bus”). Jadilah frase jalur bus-way dengan unsur jalur dan way yang sebenarnya bermakna sama. Bila kereta yang berjalan di atas monorail (rel tunggal) telah beroperasi, bisa jadi kita segera menambah kekonyolan baru dengan mengatakan, “Ayo naik monorail!”

Andre Moeler (Kompas, 4/12/2004) melukiskan bagaimana pelayan hotel di Indonesia menggunakan begitu banyak kata bahasa Inggris kepada tamu Indonesia: “Bayarnya cash atau pake card? Ada voucher untuk welcome drink dekat pool. Ibu bisa facial di beauty salon, dekat river view. Bisa rental VCD lagi di shopping centre sambil refreshing pada grand opening supermarket baru. Di sini kita pake reason ketimbang feeling dan fear, right? Kalau mau check- out, perlihatkan identity card”.

Selain sang tamu tidak memerlukan kata-kata itu, padanannya dalam bahasa Indonesia juga tersedia. Di berbagai negara berkembang—termasuk Indonesia—dominasi makin menjadi-jadi akibat bahasa Inggris dipandang lebih bergengsi.

Mengapa dominasi bahasa Inggris perlu dicemaskan? Karena berbahasa tidak hanya perkara mengatakan kepada orang lain sesuatu hal dengan sebuah lambang verbal. Berbahasa adalah berpikir, bahasa adalah pikiran. Bahasa bukanlah entitas otonom, tetapi merepresentasikan pengalaman manusia atas dunia. Itulah yang disebut Halliday (1978) sebagai fungsi ideasional bahasa.

Bahasa apa pun menyediakan perangkat berpikir yang khas. Dengan bahasanya, setiap masyarakat bahasa (language community) mengungkapkan cara berpikir yang unik, otentik, dan mungkin sangat renik.

Bahasa berkaitan pula dengan kebudayaan seperti dihipotesiskan Sapir dan Whorf. Bahasa merupakan cara pandang manusia atas dunia (world-view) secara kolektif-kultural. Atau, menurut Saussure (1916), bahasa (langue) merupakan fakta sosial yang mengatur dan mengendalai perilaku masyarakat.

Karena itu, dominasi bahasa Inggris dalam internet dan apa pun layak dipahami sebagai penyeragaman cara berpikir dan cara memandang dunia. Kekayaan perspektif kultural yang unik, otentik, dan renik bakal terkubur. Keberagaman (diversity) digantikan keseragaman (uniformity). Demikianlah kecemasan Erickson, Chirac, dan Bjeljac-Babic gayut-berpaut.

Kecemasan mereka sebenarnya tidak berhenti sebagai keresahan kultural, tetapi juga politis. Aspek politis dominasi sebuah bahasa atas bahasa-bahasa lain menyangkut hak bahasa dan nasionalisme.

Hak bahasa merupakan kesempatan hidup sebuah atau beberapa bahasa dalam masyarakat multilingual. Hak bahasa berwujud kedudukan dan fungsi yang diberikan oleh masyarakat kepada sebuah atau beberapa bahasa. Dominasi bahasa secara jujur menunjukkan sikap mengistimewakan sebuah bahasa sambil menyisihkan yang lain.

Dominasi bahasa Inggris menarik dilihat dengan kacamata Bakhtin (1986) dan Volosinov (1975). Menurut mereka, setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis. Tanda-tanda kebahasaan merupakan ranah perjuangan kepentingan. Dengan pandangan itu, tidak terbantah bahwa bahasa Inggris merupakan perangkat ideologis globalisasi.

Memfungsikan sebuah bahasa secara dominan melebihi yang lain mencerminkan pula kesetiaan bahasa (language loyalty). Kesetiaan terhadap bahasa nasional dan bahasa negara merupakan wujud nasionalisme. Namun, kesetiaan pada bahasa lain—apalagi bahasa asing—dapat ditafsirkan sebaliknya. Dominasi bahasa asing di sebuah negara menjadi salah satu bukti runtuhnya nasionalisme.

Mungkinkah melawan?

Globalisasi makin melumrahkan perjumpaan antarmanusia dalam pergaulan antarbudaya. Kontak bahasa dan persaingan bahasa pun tidak terhindarkan. Di satu pihak, bahasa Inggris memenangkan persaingan dan mendominasi bahasa-bahasa lain. Di pihak lain, begitu banyak bahasa tersingkir dan terpinggirkan. Bahasa-bahasa dengan jumlah penutur sedikit—apalagi tanpa kesetiaan bahasa—sungguh terancam kepunahan.

Dalam konteks Indonesia, mungkinkah melawan dominasi bahasa Inggris? Jika pengertiannya “menghentikan”, agaknya mustahil, dan memang tak perlu. Namun, jika dimaksudkan untuk menyelamatkan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara, jawabnya: mungkin, bahkan sangat mungkin!

Tentu saja diperlukan langkah politis semacam “Politik Bahasa Nasional” tahun 1975. Kebijakan itu termasuk merumuskan (kembali) kedudukan dan fungsi berbagai bahasa demi menciptakan keseimbangan baru antara bahasa Indonesia, bahasa-bahasa Nusantara, dan bahasa-bahasa asing (terutama bahasa Inggris). Di dalamnya tercakup bagaimana bahasa-bahasa tersebut diajarkan dan dijadikan bahasa pengantar di lembaga pendidikan. UU Kebahasaan diharapkan bisa menjadi jawaban.

Tak kalah penting ialah pemanfaatan internet dan teknologi informasi—termasuk handphone—untuk pelestarian bahasa-bahasa daerah, terutama yang penuturnya minim dan tidak memiliki tradisi tulis. Alih-alih menebarkan kematian, internet (dan teknologi informasi) justru menjadi malaikat yang mengembuskan napas kehidupan bagi bahasa-bahasa Nusantara yang sekarat. Gagasan ini tidak sulit dilaksanakan. Internet (dan handphone) dapat diperankan untuk membangkitkan dan merekam penggunaan bahasa-bahasa Nusantara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: