ANALISIS HASIL BELAJAR MATEMATIKA

ANALISIS HASIL BELAJAR MATEMATIKA BERDASARKAN
GAYA KOGNITIF GURU DAN GAYA KOGNITIF SISWA
PADA KELAS II SMA

Download makalah lengkap di sini [ Ziddu ] [ 4Shared ]

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masalah kualitas pendidikan merupakan salah satu masalah krusial di bidang pendidikan yang sedang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, selain masalah-masalah kuantitas, masalah efektivitas, masalah efisiensi, dan masalah relevansi. Sudah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas, seperti peningkatan kualifikasi guru, perubahan dan perbaikan kurikulum, dan pengadaan sarana dan prasarana. Namun upaya-upaya tersebut masih bersifat umum dan global, belum menyentuh masalah-masalah yang langsung dihadapi di kelas. Memang disadari, bahwa sebaik apapun kurikulum pendidikan yang disiapkan, selengkap apapun sarana dan prasarana yang disiapkan, tetapi jika tidak dimplementasikan dengan tepat dan benar oleh guru dan siswa di dalam kelas, maka tidak akan memberikan hasil yang optimal.
Komponen guru dan siswa merupakan ujung tombak yang sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas. Guru merupakan pengarang skenario sekaligus sutradara yang mengatur jalanya proses belajar mengajar di dalam kelas, termasuk menyiapkan rencana pengajaran dengan meprtimbangkan kurikulum, sarana dan prasarana yang ada. Sedangkan siswa merupakan aktor yang harus memiliki kemampuan, motivasi, dan kesiapan yang memadai untuk mengikuti proses belajar mengajar di kelas.
Faktor lain yang juga sangat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas, adalah interaksi antara guru dan siswa. Interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi multi-arah, yakni penyampaian pesan berupa materi pelajaran.
Proses interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar matematika memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari beberapa pelajaran lainnya, karena objek kajian langsung matematika yang bersifat abstrak. Guru harus mampu menjelaskan pesan-pesan matematika yang abstrak tersebut agar lebih mudah diterima oleh siswa. Bahkan dalam mengahdapi siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang masih berada pada tahap berpikir kongkret, guru harus mampu merepresentasikan objek-objek kajian langsung matematika yang abstrak dalam bentuk yang kongkret atau semi kongkret.
Keberhasilan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar matematika antara lain ditentukan oleh kemampuan dan gaya kognitif guru sebagai penyampai pesan pengetahuan matematika serta kemampuan dan gaya kognitif siswa sebagai penerima pesan pengetahuan matematika. Dalam interaksi, guru harus menghadapi siswa-siswa yang selian memiliki perbedaan dalam kemampuan pemecahan masalah, taraf kecerdasan, atau kemampuan berpikir kreatif, juga memiliki perbedaan dalam cara memperoleh, menyimpan, serta menerapkan pengetahuan. Siswa dapat berbeda dalam cara pendekatan terhadap situasi belajar, dalam cara menerima, mengorganisasi dan menghubungkan pengalaman-pengalaman mereka serta dalam cara merespon metode dan gaya mengajar guru.
Guru dan siswa memiliki cara-cara sendiri yang disukai dalam menyusun apa yang dilihat, diingat, dan dipikirkannya. Perbedaan-perbedaan individual yang menetap dalam cara menyusun dan mengelolah informasi serta pengalaman-pengalaman tersebut dikenal dengan “gaya kognitif”. Gaya kognitif merupakan variabel penting yang mempengaruhi pilihan guru dan siswa dalam bidang akademik, kelanjutan perkembangan akademik, bagaimana belajar dan mengajar, serta bagaimana siswa dan guru berinteraksi dalam kelas. Baik guru maupun siswa menunjukkan cara-cara pendekatan yang berbeda dalam menerima atau memberikan pengajaran, sesuai gaya kognitif yang dimiliki. Penelitian ini akan menyelidiki gaya kognitif guru dan gaya kognitif siswa serta interaksi keduanya dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa SMU Negeri 3 Makassar.
1.2. Perumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif field independen?
2. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif field dependen?
3. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang memiliki gaya kognitif field independen?
4. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang memiliki gaya kognitif field dependen?
5. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field independen?
6. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field dependen?
7. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field independen?
8. Seberapa besar hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field dependen?
9. Adakah perbedaan hasil belajar matematika antara siswa dengan gaya kognitif field independen dengan siswa dengan gaya kognitif field dependen?
10. Adakah perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diajar oleh guru dengan gaya kognitif field independen dengan siswa yang diajar oleh guru dengan gaya kognitif field dependen?
11. Adakah interaksi antara gaya kognitif guru dengan gaya kognitif siswa dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa?

1.3. Tujuan Penelitian
Pada hakekatnya tujuan penelitian ini adalah mencari jawaban atas masalah-masalah penelitian yang telah dirumuskan. Adapun perincian tujuan tersebut adalah memperoleh informasi yang akurat tentang:
1. hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif field independen,
2. hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya kognitif field dependen,
3. hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang memiliki gaya kognitif field independen,
4. hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang memiliki gaya kognitif field dependen,
5. hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field independen,
6. hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field independen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field dependen,
7. hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field independen,
8. hasil belajar matematika siswa dengan gaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif field dependen,
9. perbedaan hasil belajar matematika antara siswa dengan gaya kognitif field independen dengan siswa dengan gaya kognitif field dependen,
10. perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diajar oleh guru dengan gaya kognitif field independen dengan siswa yang diajar oleh guru dengan gaya kognitif field dependen,
11. interaksi antara gaya kognitif guru dengan gaya kognitif siswa dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.
2. KAJIAN LITERATUR
2.1. Gaya Kognitif

Secara psikologi ada perbedaan cara orang memproses dan mengorganisasi kegiatannya. Perbedaan tersebut dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas dari hasil kegiatan yang dilakukan, termasuk kegiatan belajar siswa di sekolah. Perbedaan ini disebut dengan gaya kognitif (cognitive styles).
Gaya kognitif merujuk pada cara orang memperoleh informasi dan menggunakan strategi untuk merespon suatu tugas. Disebut sebagai gaya dan tidak sebagai kemampuan karena merujuk pada bagaimana orang memproses informasi dan memecahkan masalah, dan bukan merujuk pada bagaimana cara yang terbaik dalam memproses informasi dan memecahkan masalah.
Coop (1974) mengemukakan bahwa istilah gaya kognitif mengacu pada kekonsistenan pola yang ditampilkan seseorang dalam merespon berbagai situasi. Juga mengacu pada pendekatan intelektual dan/atau strategi dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan menurut Kogan (Ardana, 2002), gaya kognitif dapat didefinisikan sebagai variasi individu dalam cara memandang, mengingat dan berpikir atau sebagai cara tersendiri dalam hal memahami, menyimpan, mentransformasi, dan menggunakan informasi. Sejalan dengan definisi di atas, Nasution (2000) mengemukakan bahwa gaya kognitif (gaya belajar) adalah cara yang konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. Sedangkan Winkel (1996) mengemukakan pengertian gaya kognitif sebagai cara khas yang digunakan seseorang dalam mengamati dan beraktivitas mental di bidang kognitif, yang bersifat individual dan kerapkali tidak disadari dan cenderung bertahan terus.
Mengenai jenis-jenis gaya kognitif, Winkel (1996) membedakan dalam beberapa jenis berdasarkan kecenderungan, seperti: (a) cendrung bergantung pada medan (field dependent) atau cenderung tidak tergantung pada medan (field idepemdent), (b) Kecenderungan konsisten atau mudah meninggalkan cara yang telah dipilih dalam mempelajari sesuatu, (c) kecenderungan luas atau sempit dalam pembentukan konsep, dan (d) cenderung sangat atau kurang memperhatikan perbedaan antara objek-objek yang diamati.
Nasution (2000) membedakan gaya kognitif secara lebih spesifik dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar, meliputi: (a) field dependent – field independent, (b) impulsive – refleksif, (c) presentif – reseptif, dan (d) sistematis – intuitif.
Sedangkan Ardana (2002) mengutip pembagian gaya kognitif yang dikemukakan oleh Siegel dan Coop (1974), yaitu: (a) mengutamakan perhatian global versus perhatian detail (bagian), (b) membedakan suatu stimulus ke dalam kategori yang lebih besar versus kategori bagian-bagian kecil, (c) kecendrungan mengklasifikasi item berdasarkan karakteristik yang nampak seperti kesamaan fungsi, waktu, atau ruang versus memilih kesamaan dari beberapa atribut yang abstrak, (c) cepat (impulsive) versus lambat, sugguh-sungguh dalam pemecahan masalah (reflexsive), dan (d) Intuitif, induktif versus kognitif logik, kognitif deduktif.
Dari sekian banyak jenis gaya kognitif yang dikemukakan di atas, maka gaya kognitif field dependen – field independen beserta implementasinya dalam pembelajaran, akan menjadi fokus dalam penelitian ini.
Nasution (2000) mengemukakan bahwa siswa yang bergaya kognitif field dependent sangat dipengaruhi atau bergantung pada lingkungan, sedangkan siswa yang bergaya kognitif field independent tidak atau kurang dipengaruhi pleh lingkungan. Witkin dalam Elkind & Weiner (1978) mengatakan bahwa: “orang yang mempunyai gaya kognitif field-independen merespon suatu tugas cenderung bersandar atau berpatokan pada syarat-syarat dari dalam diri sendiri, sedangkan orang yang memiliki gaya kognitif field-independen melihat syarat lingkungan sebagai petunjuk dalam merespon suatu stimulus. Witkin, Moore and Goodenough (Ardana, 2002) mengemukakan bahwa orang yang memiliki gaya kognitif field-independen lebih suka memisahkan bagian-bagian dari sejumlah pola dan menganalisis pola berdasarkan komponen-komponennya, sendangkan orang yang memiliki gaya kognitif field-dependen cenderung memandang suatu pola sebagai keseluruhan, tidak memisahkan ke dalam bagian-bagiannya. Sedangkan Winkel (1996) mengemukakan bahwa orang yang bergaya kognitif field dependen cenderung memandang suatu pola sebagai keseluruhan dan kerap lebih berorientasi pada sesama manusia serta hubungan social, sedangkan orang yang bergaya kognitif field independen cenderung untuk lebih memperhatikan bagian dan komponen dalam suatu pola dan kerap pula lebih berorientasi pada penyelesaian tugas daripada hubungan sosial.
Implikasi gaya kognitif siswa yang field dependen – field independen dalam pembelajaran dapat dirangkum dalam tebel berikut.
Gaya Belajar
Field-dependen Field-Independen
1. Penerimaan secara global 1. Peneriamaan secara analitis
2. Memahami secara global sturktur yang diberikan. 2. Memahami secara artikulasi dari struktur yang diberikan atau pembatasan
3. Membuat perbedaan yang umum dan luas antara konsep, melihat hubungan/ keterkaitan. 3. Membuat perbedaan konsep yang spesifik dengan sedikit mungkin tumpang tindih.
4. Orientasi sosial 4. Orientasi pada perorangan
5. Belajar materi yang lebih bersifat sosial. 5. Belajar materi sosial hanya sebagai tugas yang disegaja.
6. Materi yang baik adalah materi yang relevan dengan pengalamannya. 6. Belajar materi sosial hanya sebagai tugas yang disengaja.
7. Memerlukan bantuan luar dan pengu-atan untuk mencapai tujuan. 7. Tujuan dapat dicapai dengan penguatan sendiri.
8. Memerlukan pengorganisasian. 8. Bisa dengan situasi struktur sendiri.
9. Lebih mempengaruhi oleh kritik. 9. Sedikit dipengaruhi oleh kritik.
10. Menggunakan pendekatan penonton untuk mencapai konsep. 10. Menggunakan pendekatan pengetesan hipotesis dalam pencapaian konsep.

Sedangkan implikasi gaya kognitif guru yang field dependen – field independen dalam pembelajaran dapat dirangkum dalam tabel berikut.
Gaya Mengajar
Field-Dependen Field-Independen
1. Lebih menyukai situasi mengajar yang memberikan interaksi dan diskusi dengan siswa 1. Lebih menyukai situasi mengajar klasikal seperti kuliah dengan menekankan pada aspek kognitiff dalam pembelajaran.
2. Menggunakan pertanyaan untuk mengecek hasil belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran. 2. Menggunakan pertanyaan untuk memperkenalkan materi berdasarkan jawaban siswa.
3. Menggunakan aktivitas yang berpusat pada siswa 3. Menggunakan situasi belajar yang diorganisasikan oleh guru.
4. Dipandang oleh siswa sebagai suatu pengajaran fakta. 4. Dipandang oleh siswa dapat sebagai pendorong mereka menerapkan prinsip-prinsipnya.
5. Menyediakan sedikit umpan balik, menghindari evaluasi negatif 5. Umpan balik yang bersifat koreksi, menggunakan evaluasi negatif.
6. Lebih menyukai situasi belajar yang hangat 6. Lebih menyukai dalam mengorganisasikan dan mengarahkan belajar siswa.

2.2. Hasil-hasil Penelitian Relevan
Sebagai pendukung kajian teoretis yang diuraikan di atas, berikut dikemukakan beberapa hasil penelitian relevan yang dikutip oleh Slameto (1995).
1. Penelitian Witkin, Goodenough dan Karp menyimpulkan bahwa gaya kognitif field independen meningkat di atas usia 17 tahun dan individu yang bersangkutan menunjukkan konsistensi dalam gaya yang dipilihnya.
2. Penelitian Stein (1971) menyimpulkan bahwa gaya kognitif mempengaruhi prestasi siswa dalam mata pelajaran tertentu serta profesi yang lebih disiplin.
3. Clar (1971) menemukan bahwa makin tinggi kadar field independen seseorang, maka makin realistis bidang kejuruan yang dipilih; mereka menunjukkan pilihan-pilihan yang lebih spesifik dan merupakan minat mereka yang utama. Sebaliknya makin tinggi kadar field dependen seseorang, maka semakin ragu-ragu, bimbang dalam menentukan bidang kujuruan yang akan dipilih.
4. Busch (1971) dan Wide (1972) menemukan bahwa siswa-siswa dengan gaya kognitif field dependen dapat belajar lebih dalam kondisi-kondisi motivasi instrinsik dibandingkan mereka yang memiliki gaya kognitif field independen.
5. Grive & Davis (1971) menemukan bahwa makin tinggi kadar gaya kognitif field dependen seseorang, maka makin besar manfaat yang diterima dari pengajaran dengan metode “discovery” daripada metode ekspositori.
3. METODE PENELITIAN
3.1. Variabel Penelitian
Variabel yang diperhatikan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu: (1) variabel bebas yang terdiri dari: (a) gaya kognitif guru dengan kategori field independen dan field dependen dan (b) gaya kognitif siswa dengan kategori field independen dan field dependen; dan (2) variabel tak bebas, yaitu hasil belajar matematika.
3.2. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan tujuan utama untuk menyelidiki perbedaan hasil belajar matematika siswa berdasarkan gaya kognitif guru dan gaya kognitif siswa. Adapun disain analisis yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
GKG
GKS
B1 B2
A1 Y11 Y12
A2 Y21 Y22

Keterangan:
GKG = Gaya Kognitif Guru,
GKS = Gaya Kognitif Siswa,
A1 = Siswa dengan Gaya Kognitif Field Independen ,
A2 = Siswa dengan Gaya Kognitif Field dependen ,
B1 = Guru dengan Gaya Kognitif Field Independen ,
B2 = Guru dengan Gaya Kognitif Field dependen ,
Y11 = Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Gaya Kognitif Field Independen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif Field Independen ,
Y12 = Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Gaya Kognitif Field Independen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif Field Dependen ,
Y21 = Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Gaya Kognitif Field Dependen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif Field Independen ,
Y22 = Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Gaya Kognitif Field Dependen dan diajar oleh guru dengan gaya kognitif Field Dependen .
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi Penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar Tahun Pelajaran 2002-2003 yang berjumlah sekitar 400 orang. Sedangkan sampel penelitian ini adalah sebanyak 168 siswa yang dipilih dengan teknik stratified random sampling.
3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ada tiga macam, yaitu (a) tes gaya kognitif siswa, (b) tes gaya kognitif guru, dan (c) tes hasil belajar matematika. Tes gaya kognitif siswa dan guru yang dipergunakan adalah hasil adaptasi dari Group Embeded Figura Test (GEFT), sedangkan tes hasil belajar matematika yang dipergunakan adalah dikembangkan oleh Team Guru Matematika SMU Negeri 3 Makassar.
3.5. Teknik Analisis Data
Data yang sudah dikumpulkan akan dianalisis menggunakan dua macam teknik statistik, yaitu teknik statistik deskriptif dan teknik statistik inferensial. Statistik deskriptif dipergunakan untuk mendeskripsikan karakteristik skor responden penelitian untuk masing-masing kelompok. Untuk keperluan tersebut menggunakan rata-rata, standar deviasi, skor maksimum, skor minimum, modus, median, dan tabel frekuensi. Sedangkan teknik statistik inferensial yang digunakan adalah analisis variansi dua jalur dan dilanjutkan dengan uji-t multi comparition, yakni uji Scheffe.
4. HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN
4.1. Hasil-hasil Analisis Deskriptif
1. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar adalah sebesar 4,88 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median sebesar 4,86 dan skor modus sebesar 3,43. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “sangat rendah”.
2. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field independen adalah sebesar 5,59 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median dan skor modus sebesar 5,71. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “rendah”.
3. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field dependen adalah sebesar 4,04 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median sebesar 4,00 dan skor modus sebesar 3,43. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “sangat rendah”.
4. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen adalah sebesar 4,76 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median dan skor modus sebesar 4,86. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “sangat rendah”.
5. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah sebesar 5,00 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median sebesar 4,71 dan skor modus sebesar 4,57. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “sangat rendah”.
6. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field independen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen adalah sebesar 5,72 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median dan skor modus sebesar 5,71. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “rendah”.
7. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field independen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah sebesar 5,46 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median sebesar 5,71 dan agak berbeda dengan skor modus sebesar 7,14. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “rendah”.
8. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen adalah sebesar 3,60 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median sebesar 3,43 dan skor modus sebesar 4,86. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “sangat rendah”.
9. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah sebesar 4,48 dari skor ideal 10 dan tidak terlalu jauh bedanya dengan skor median sebesar 4,29 dan skor modus sebesar 4,57. Skor rata-rata tersebut berada dalam kualifikasi “sangat rendah”.
4.2. Hasil-Hasil Analisis Inferensial
Berdasarkan hasil analisis varians dua jalur dapat dilakukan pengujian hipotesis penelitian sebagai berikut:
a. Nilai probabilitas uji yang berkenaan dengan gaya kognitif siswa (GKS) adalah
p = 0,00 <  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen dengan hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field dependen.
b. Nilai probabilitas uji yang berkenaan dengan gaya kognitif guru (GKG) adalah p = 0,231 >  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen.
c. Nilai probabilitas uji yang berkenaan dengan interaksi gaya kognitif siswa (GKS) dengan gaya kognitif guru (GKG) adalah p = 0,028 <  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara gaya kognitif siswa (GKS) dengan gaya kognitif guru (GKG) dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa. Berdasarkan hasil uji lanjut dengan uji Scheffe pada lampiran C, terlihat bahwa:
1) Nilai probalitas yang berkenaan dengan perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah p = 0,904 >  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika untuk kedua kelompok siswa tidak berbeda secara signifikan.
2) Nilai probalitas yang berkenaan dengan perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen adalah p = 0,000 <  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen secara signifikan lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen.
3) Nilai probalitas yang berkenaan dengan perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah p = 0,009 <  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen secara signifikan lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen.
4) Nilai probalitas yang berkenaan dengan perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen adalah p = 0,000 <  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen secara signifikan lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen.
5) Nilai probalitas yang berkenaan dengan perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah p = 0,063 >  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen secara signifikan tidak lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen.
6) Nilai probalitas yang berkenaan dengan perbandingan hasil belajar matematika antara siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen adalah p = 0,148 >  = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen secara signifikan tidak lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen.
4.3. Bahasan Hasil Penelitian
Kualifkasi hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang dijadikan sampel penelitian untuk semua kelompok penelitian berkisar dari “sangat rendah” dan “rendah”. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti lain dan sejalan dengan kedudukan peringkat penguasaan matematika siswa SMU di Sulawesi Selatan pada NUN dalam beberapa tahun terakhir yang berada pada peringkat paling bawah. Hal ini memberikan isyarat kepada guru matematika, penyelengara sekolah, dan bahkan pakar pendidikan matematika untuk berpikir kreatif mencari solusi dari masalah tersebut. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa salah satu faktor yang dapat dimanipulasi atau diberdayakan untuk mendongkrak hasil belajar matematika siswa SMU Negeri 3 pada khususnya adalah faktor gaya kognitif siswa.
Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen dengan hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field dependen. Hasil ini sudah sejalan dengan kajian teori yang telah menguraikan keunggulan-keunggulan siswa yang bergaya kognitif field independen jika dibandingkan dengan siswa yang bergaya kognitif field dependen. Walupun demikian, bukan berarti bahwa siswa yang bergaya kognitif field dependen tidak memiliki harapan untuk memiliki hasil belajar matematika yang lebih baik. Siswa yang bergaya kognitif field dependen dapat juga memiliki hasil belajar matematika yang setara dengan siswa yang bergaya kognitif field independen, dengan catatan guru memiliki kemampuan untuk memberdayakan kedua jenis gaya kognitif siswa dalam pembelajaran, misalnya dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang bervariasi.
Hasil analisis inferensial lainnya adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen. Walaupun secara teoretis guru yang bergaya kognitif field independen memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan guru yang bergaya kognitif field dependen, namun tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar matematika siswa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Guru mengajar menggunakan skenario pembelajaran yang memiliki format standar sesuai ketetapan Dinas Diknas, sehingga sangat sedikit untuk berimprovisasi sesuai dengan gaya kognitifnya, (2) Porsi waktu yang dipergunakan oleh guru untuk mengajar di kelas sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang dipergunakan oleh siswa untuk belajar sendiri, sehingga gaya kognitif siswa sendiri lebih dominan pengaruhnya daripada gaya kognitif gurunya. Jadi gaya mengajar guru yang harus disesuaikan dengan gaya kognitif siswa.
Namun demikian, hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah kemungkinan kombinasi yang efektif antara gaya kognitif siswa dan gaya kognitif guru dalam memberikan hasil belajar matematika siswa secara optimal. Hal ini tergambar dari adanya interkasi antara gaya kognitif siswa dan gaya kognitif guru dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.
5. SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Simpulan
Mengacu pada hasil-hasil penelitian yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field independen berada dalam kualifikasi rendah ( = 5,59; SD = 1,76).
2. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field dependen berada dalam kualifikasi sangat rendah ( = 4,04; SD = 1,55).
3. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen berada dalam kualifikasi sangat rendah ( = 4,76; SD = 1,88).
4. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen berada dalam kualifikasi sangat rendah ( = 5,00; SD = 1,79).
5. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field independen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen berada dalam kualifikasi rendah ( = 5,72; SD = 1,71).
6. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field independen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen berada dalam kualifikasi rendah ( = 5,46; SD = 1,82).
7. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen berada dalam kualifikasi sangat rendah ( = 3,60; SD = 1,36).
8. Hasil belajar matematika siswa kelas II SMU Negeri 3 Makassar yang bergaya kognitif field dependen dan diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen berada dalam kualifikasi rendah ( = 4,48; SD = 1,62).
9. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field independen dengan hasil belajar matematika siswa yang bergaya kognitif field dependen.
10. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field independen dengan siswa yang diajar oleh guru yang bergaya kognitif field dependen.
11. Terdapat interaksi antara gaya kognitif siswa (GKS) dengan gaya kognitif guru (GKG) dalam mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.

5.2. S a r a n
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka dikemukakan pula saran atau rekomendasi penelitian sebagai berikut:
1. Kepada guru matematika disarankan agar memanfaatkan informasi tentang jenis gaya kognitif siswa dalam memililih metode/pendekatan pembelajaran yang sesuai dan menguntungkan bagi masing-masing kelompok siswa, yaitu kepada kelompok siswa dengan gaya kognitif field independen lebih sering diterapkan metode ekspositori, sedangkan kepada kelompok siswa dengan gaya kognitif field dependen lebih sering diterapkan metode penemuan, serta sekali-sekali menggunakan metode diskusi untuk menggabungkan kelebihan masing-masing kelompok siswa.
2. Selain itu, disarankan juga kepada guru matematika agar mempertimbangkan gaya kognitif dirinya dan gaya kognitif siswanya dalam menyiapkan rencana pembelajaran yang dapat mengakomodasi semua jenis gaya kognitif, guna memperoleh proses pembelajaran yang berkualitas.
3. Disarankan pula kepada siswa agar memanfaatkan informasi mengenai jenis gaya kognitif guru dan gaya kognitifnya sendiri dalam menghadapi proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.
4. Disarankan kepada guru matematika untuk melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika dengan memberdayakan gaya kognitif siswa.
5. Disarankan pula kepada para peneliti lain yang berminat melanjutkan penelitian ini atau melakukan penelitian yang sama pada populasi yang berbeda, agar lebih menfokuskan penelitiannya pada kemungkinan kombinasi yang paling efektif antara gaya kognitif guru dengan gaya kognitif siswa.

PUSTAKA ACUAN
Anonim. 1991. Ringkasan Hasil Penelitian 1989-1990. Jakarta: P4M Ditjen Dikti Depdikbud.
Ardana, I Made. 2000. Pengembangan Pembelajaran Bilangan Bulat Berorientasi Pada Kecenderungan Kognitif Secara Psikologis Sebagai Upaya Peningkatan Konsep Diri Akademis Matematika Siswa Sekolah Dasar Laboratorium IKIP Negeri Singaraja. Makalah S3. Surabaya: Pascasarjana UNESA.
Coop, R.H. Kinnard White. 1974. Psychological Concepts in The Classroom. New York : Harper & Row Publisher.
Djaali. 1991. Konsep dan Strategi Pengajaran Matematika Di SD dalam Rangka Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Jurnal Alumni Vol. 1 No. 1 Tahun 1991, Ujungpandang: IKA IKIP Ujungpandang.
Elkind, Weiner. 1978. Development of The Child. USA: John Willey & Sons, INC.
Gagne, Robert, M. 1983. The condition of Learning. Third Edition. Japan: Holt Saunders International Edition.
Hudoyo, Herman. 1979. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaan Di Depan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional.
…….…1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang: Penerbit IKIP Malang.
Lusiana, dkk. 1995. Pengaruh Interaktif Antara Pengaktif Strategi Kognitif dan Gaya Kognitif terhadap Perolehan Belajar Bidang Keperawatan Klinik. Jurnal Teknologi Pembelajaran Tahun 3, Nomor 1-2, Oktober 1995. Malang: PPs IKIP Malang: Malang.
Nasution, S. 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nurkancana, W. dan Sumartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Soedjadi, R. 1985. Mencari Strategi Pengolahan Pendidikan Matematika Menyongsong Era Tinggal Landas Pembangunan Indonesia. Pidato Pengukuhan. Surabaya: IKIP Surabaya.
Thomas. 1990. Educational Psychology A Realistic Approach. London: Longman.
Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Edisi Revisi. Jakarta: Grasindo.
Wolfok, E. A. 1993. Educational Psychology. 5 Edition. Singapore: Allyn and Bacon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: