Model pengajaran guru konstruktivis

PENGAJARAN GURU KONSTRUKTIVIS

Download makalah lengkap di sini [ Ziddu ] [ 4Shared ]

Proses Konstruktivis
– Pengetahuan merupakan produk kognitif masing2 individu
– Pengetahuan dikonstruk melalui pengalaman
– Pengalaman dipengaruhi oleh lensa kognitif
– Konstruk bisa dilakukan lewat refleksi
– Proses konstruk mengikuti kondisi sosial
– Cara anak mengkonstruk berbeda dengan orang tua/ ahli, karena materi dan pengalaman berbeda
– Guru membentuk model yang cukup memadai tentang cara siswa memandang suatu gagasan dan kemudian membantu mereka menyusun pandangan-pandangan tersebut

Hasil konstruktivis
– Miskonsepsi siswa, konsepsi alternatif, dan pengetahuan sebelumnya dapat diperkaibaiki
– Hasil yang diperoleh siswa diyakini kebenarannya
– Sadar akan apa yang diketahui

Cirir-ciri konstruk yang baik
1. struktur dengan ukuran konsistensi internal;
2. integrasi lintas berbagai konsep;
3. konvergensi antara beragam bentuk dan konteks makna;
4. daya reflektif dan deskriptif;
5. kontinuitas sejarah;
6. keterkaitan dengan berbagai sistem simbol;
7. kesesuaian dengan para ahli;
8. potensi untuk bertindak sebagai alat bagi konstruk berikutnya;
9. petunjuk bagi tindakan-tindakan masa depan; dan
10. kemampuan untuk dijastifikasi dan dipertahankan.

Asumsi Alternatif konstruktivisme
Konstruktivisme menekankan siswa untuk membuat konstruk yang lebih baik. Variasi tetap diharapkan, dan siswa diberikan tanggung jawab utama untuk menilai kualitas sebuah konstruk. Tujuan pengajaran dapat dinyatakan sebagai:
Seorang guru hendaknya mendorong perkembangan setiap individu dalam kelasnya masing-masing untuk bertanya, mengkonstruksi, mengekspolarasi, memecahkan, dan menjustifikasi masalah-masalah dan konsep-konsep matematika dan berusaha mengembangkan kemampuan siswa untuk melakukan refleksi dan mengevaluasi kualitas konstruknya masing-masing.
Tujuan di atas memberikan isyarat diterimanya 3 asumsi:
1. Guru harus membangun model pemahaman matematika siswa. Untuk itu, guru perlu menciptakan sebanyak dan seberagam mungkin cara pengumpulan fakta untuk menilai kekuatan konstruk seorang siswa. Ini berarti bahwa guru menciptakan sebuah “studi kasus” dari setiap siswa.
2. Pengajaran bersifat alternatif; melalui interaksi dengan siswa berkaitan dengan pengetahuannya mengenai pokok bahasan, guru mengkonstruk alur tentatif yang mungkin bisa digunakan siswa untuk mengkonstruk sebuah gagasan matematika yang lebih cocok dengan pengetahuan matematika pada umumnya. Akan tetapi, guru harus sudah dipersiapkan dengan kemungkinan bahwa konstruk siswa tidak akan sesuai dengan konstruknya sendiri, dan mendorong siswa mengungkapkan keyakinannya agar guru bisa memahaminya. Lalu, guru harus dipersiapkan untuk merevisi keyakinannya sendiri atau bernegosiasi dengan siswa untuk menemukan alternatif yang bisa diterima bersama. Jika siswa mengajukan solusi yang jelas-jelas lemah argumentasinya, guru perlu menjelaskan kepada siswa bahwa posisi legitimasinya lemah.
3. Pada akhirnya, siswa harus menentukan kecukupan konstruknya.

Model pengajaran guru konstruktivis mencakup 6 komponen
1. Peningkatan Otonomi dan Komitmen
– Otonomi pribadi merupakan tulang punggung proses konstruk.
– Otonomi merupakan sebuah prasyarat untuk mengembangkan kesadaran diri yang individu perlukan untuk menjadi pemecahan masalah yang sukses.
– Guru menyerahkan ke siswa tanggung jawab dan pengendalian atas pembelajaran itu.
– Siswa membuat komitmen terhadap jawaban-jawabannya.
– Guru menggunakan 4 teknik untuk mencapai tujuan otonomi ini, yakni:
a. guru menanyakan kembali jawaban siswa apakah jawaban tersebut benar atau salah,
b. guru menekankan agar siswa terlibat dalam sebuah masalah setidaknya menjelaskan apa yang mereka telah coba,
c. guru akan memberikan petunjuk secukupnya kepada suatu kelompok agar kelompok tersebut memulai konstruknya, dan
d. guru menekankan pentingnya menyuruh siswa mengevaluasi keberhasilannya sendiri.
– Setelah siswa mulai bertanggung jawab atas pemikirannya sendiri, guru bisa beralih untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan refleksi lainnya
2. Pengembangan Proses Refleksi Siswa
– Refleksi merupakan usaha untuk mengkonstruk gagasan-gagasan matematika.
– Tiga tahap konstruk yang diungkapkan dalam Confey (1985) yaitu:
tahap permasalahan, tindakan, dan refleksi.
– Siswa dapat memodifikasi dan menyesuaikan konstruknya melalui tiga komponen yaitu:
– menemukan situasi dimana mereka secara pribadi merasakan adanya masalah,
– berusaha memecahkan masalah itu dengan menggunakan berbagai bentuk makna, dan
– mengakses keberhasilan tindakannya dalam memecahkan masalah itu atau menentukan permasalahan apa yang tertinggal.
– Tiga tingkatan pertanyaan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang strategi dan metodenya sendiri.
Level 1: Interpretasi Masalah
Level 2: Strategi Kognitif
Level 3: Pembenaran Strategi
3. Konstruk Cerita Kasus
– Karena pengetahuan melibatkan dimensi kognisi, afektif, dan personal, maka sebut sebagai konstruk guru tentang sebuah cerita kasus.
– Pada hari pertama dan kedua, guru berkomentar bahwa ia mengalami kesulitan untuk menyuruh pasangan Joyce untuk menggambar.
– Melalui interaksi dengan siswa utamanya interaksi satu-satu, guru mampu membentuk model pendekatan karakteristik siswa yang ampuh untuk memecahkan masalah.
– Sampai di sini, mungkin muncul bertanya, “kapan dia mulai mengajar?”. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kita kembali pada interpretasi lama pengajaran, yaitu “bercerita”.
– Ternyata tampak bahwa ia sungguh-sungguh sudah mengajar, sebab siswa belajar memecahkan masalah dengan baik sebagai hasil interaksinya dengan guru.
– Pengajaran guru ini berkaitan dengan upaya menantang dan kengubah konsepsi yang dimiliki siswa.
4. Identifikasi dan Negosiasi Alur Pemecahan Tentatif
– Guru mengembangkan sebuah alur pemecahan tentatif dan membicarakannya dengan siswa, untuk mengatasi kesulitan siswa berkaitan dengan permasalahan yang diberikan.
– guru akan mengumpulkan bukti untuk membangun sebuah model pemikiran siswa tentang permasalahan.
– Dari model ini, guru akan mengkonstruk suatu alur pemecahan tentatif.
– Saat bekerja pada satu solusi, guru akan menguji kemampuan modelnya dari teori-teori siswa dan cerita kasusnya.
– Hasil tes ini bisa mengarah kepada perbaikan alur pemecahan tentatifnya.
– Selama minggu itu, terjadi perubahan dalam hal cara siswa memberi jawaban yaitu mereka menjadi lebih mandiri dan percaya diri.
– Seperangkat strategi dirancang khusus untuk mendorong siswa membentuk konstruk yang lebih baik dengan mengkomunikasikan gagasannya, mendorong sikap konsisten, membatasi ruang lingkup ide untuk memungkinkan terjadi resolusi ide, menanyakan makna, atau menelusuri ide dari berbagai perspektif
– Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang berorientasi pada hasil, guru menggerakkan siswa menuju sebuah solusi, bila:
a. sikap toleransi siswa terhadap rasa frustrasi rendah;
b. siswa perlu mengalami kesuksesan atau kemajuan; dan
c. kelas secara keseluruhan memerlukan kejelasan mengenai sebuah topik.
5. Menelusuri dan Membahas Alur Pemecahan Masalah
– Bila masalah terpecahkan, guru mengulas kembali permasalahan itu bersama siswa.
– Strategi ini bermanfaat untuk memberikan:
a. kesempatan untuk melakukan refleksi,
b. gambaran umum/ikhtisar permasalahan,
c. kesempatan bagi guru untuk memperkenalkan pandangannya tentang pengajaran dan pembelajaran matematika, dan
d. memberikan siswa makna penyelesaian.
– Contoh pertanyaan yang digunakan dalam mengulas alur-alur pemecahan masalah adalah:
a. “Bukankah hal itu yang diungkapkan gambar anda?
b. Bagaimana cara anda memutuskan? Dan
c. Bagaimana anda tahu bahwa saatnya untuk melakukan reorganisasi?”
6. Konsisten terhadap Kandungan Materi
– Guru yang belajar mengajar dengan teknik ini khawatir bahwa mereka akan “terlalu banyak cerita”, sering tinggal diam, sedangkan siswa tertegung dalam kefrustrasian.
– Guru konstruktivis teguh terhadap pandangan mengenai pembelajaran matematika dan memiliki banyak kesempatan untuk mendiskusikanya dengan siswa.
– Selama minggu itu, guru bertekad untuk memberikan pemahaman kepada siswa bahwa orang bisa memaknai pecahan dengan menggunakan gambar, dan bahwa algoritma bilangan rasional dapat dipandang sebagai tindakan terhadap gambar itu
– Jika seorang siswa memilih mendekati pemahaman masalah yang tidak menggunakan gambar, maka instruktur akan mempersilakannya menyelesaikan penelitian itu, tetapi ia kemudian akan menghubungkan solusi itu dengan makna pecahan. Ia berusaha mengerjakan hal ini tanpa merusak inisiatif siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: