Klasifikasi Data

Klasifikasi Data

File ini dapat anda download di sini [ Ziddu ] [ 4Shared ]

Data kuantitatif dan kualitatif yang dinumerikkan hasil pengumpulan dapat diskala atau dikategorikan dalam lima tipe.
1. Skala Nominal
Data ini berbentuk bilangan diskrit yang tiap unsurnya tidak mempunyai arti menurut besarnya atau posisinya. Bilangan yang digunakan hanya sebagai simbolisasi data saja. Data ini bisa berasal dari konversi data kualitatif, dimana data dikonversikan/disimbolisasi dalam bentuk bilangan. Datanya dapat secara bebas disusun tanpa memperhatikan urutan, dan dapat dipertukarkan.
Contoh : – Data dari variabel jenis agama (Islam=1, Kristen=2, Katholik=3, Hindu=4, Budha=5). Data dari variabel status diri (Single=1, Kawin=2, Cerai=3). Data dari variabel jenis kelamin (Pria=1, Wanita=0).
Bilangan–bilangan tersebut dapat dipertukarkan sesuai kesepakatan tidak akan mempengaruhi urutan skalanya.
2. Skala Ordinal
Data ini berasal dari hasil pengamatan, observasi, atau angket dari suatu variable. Data ini bisa berasal dari konversi data kualitatif, dimana bilangan konversinya menunjukkan urutan menurut kualitas atributnya. Sebagai contoh data dari variable kinerja mahasiswa tingkat pertama UNNES. Urutan data 1 sampai dengan 5 menyimbolkan kualitas. 5= Sangat bagus, 4= Bagus, 3= Sedang, 2= Jelek, 1= Sangat jelek. Bilangan pengganti kualitas tersebut mempunyai suatu tingkatan atribut.
Contoh lain: data dari variabel motivasi belajar mahasiswa, tingkat kualitas barang, ketrampilan menendang bola, dsb.
3. Skala Kardinal
Data ini berasal dari hasil membilang atau menghitung dari suatu variabel. Data berbentuk bilangan diskrit yang dinyatakan dalam bilangan kardinal. Sebagai contoh variabel jumlah kursi disetiap ruang kelas FT. Hasil perhitungan disini datanya jelas berupa bilangan numerik bulat.
Contoh lain: data dari variabel jumlah buku yang dimiliki mahasiswa, jumlah barang dagangan tiap koperasi, jumlah tendangan para pemain sepak bola, dsb.
4. Skala Interval
Data ini berasal dari hasil mengukur suatu variabel. Data ini diasumsikan berbentuk bilangan kontinu mempunyai ukuran urutan, seperti dengan data ordinal. Pada skala interval tidak memiliki nol mutlak, artinya jika suatu responden variabelnya bernilai nol bukan berarti tidak memiliki substansi sama sekali. Contoh variabel temperatur tiap ruangan. Ada satu ruangan diukur suhunya 0 oC, disini bukan berarti di ruangan tersebut tidak ada temperatur sama sekali tetapi suhu 0 oC masih bermakna mempunyai substansi suhu, masih ada suhu negatif juga.
Contoh lain: data dari variabel berat badan mahasiswa FIS, hasil belajar mahasiswa fisika tingkat pertama, dsb.
5. Skala Ratio
Data ini berasal dari hasil mengukur suatu variabel. Data ini diasumsikan berbentuk bilangan kontinu hampir sama dengan skala interval, perbedaannya terletak pada nilai nol. Pada skala rasio memiliki nilai nol mutlak, artinya jika suatu responden variabelnya bernilai nol berarti tidak memiliki substansi sama sekali. Contoh variabel massa benda. Bila berbicara suatu benda massanya 0 kg berarti benda itu tidak ada barangnya.
Contoh lain: data dari variabel tinggi badan mahasiswa FIS, hasil belajar mahasiswa fisika tingkat pertama, besar lingkar bola, dsb.
Catatan 1: Ada suatu variable bisa berskala interval bisa juga berskala rasio, seperti hasil belajar di atas. Disini asumsi penyaji yang di gunakan. Jika hasil belajar mahasiswa seni tari pada materi statistika dasar, diasumsikan skala interval maka bila ada seorang mahasiswa memiliki nilai 0 bukan berarti dia tidak memiliki kemampuan statistika sama sekali hanya karena situasi tertentu maka dia tidak mengerjakan sehingga nilainya nol. Jika hasil belajar mahasiswa seni tari materi pembelahan sel diasumsikan skala rasio maka bila ada seorang mahasiswa memiliki nilai 0 berarti mahasiswa tersebut jelas tidak memiliki kemampuan sama sekali terhadap konsep pembelahan sel.
Catatan 2: Belum ada landasan teori yang kuat mengkonversi data dari skala nominal, ordinal, cardinal ke skala interval atau rasio dengan suatu rumus tertentu, terhadap hal sebaliknya dapat dilakukan. Akan tetapi masih dimungkinkan kalau data ordinal diasumsikan sebagai skala interval. Sebagai contoh variabel sikap yang diambil datanya melalui angket. Variabel sikap merupakan jenis skala ordinal, akan tetapi bisa diasumsikan sebagai sekala interval dengan catatan indikator pengukur variabel sikap cukup banyak, dari segala aspek diamati.

File ini dapat anda download di sini [ Ziddu ] [ 4Shared ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: